← Kembali ke Blog

15 Juli 2026

MVP vs. Prototype vs. Landing Page: Mana yang Perlu Dibuat Dulu?

Bingung butuh MVP, prototype, atau landing page dulu? Ini perbedaannya, apa yang sebenarnya dibuktikan masing-masing, dan cara memilih titik mulai yang tepat.

Banyak diskusi awal dengan founder dimulai dengan kalimat yang sama: "Saya butuh MVP." Sepuluh menit kemudian, biasanya ternyata yang dibutuhkan adalah hal lain — dan membangun yang salah duluan membuang waktu dan budget.

Tiga hal ini, dijelaskan sederhana

Landing page — satu halaman yang menjelaskan penawaran dan menangkap minat (email, chat WhatsApp, pendaftaran). Tidak ada aplikasi di baliknya. Tugasnya menjawab satu pertanyaan: apakah ada yang peduli dengan ide ini?

Prototype — desain yang bisa diklik dan terlihat nyata, mensimulasikan pengalaman produk tanpa fungsi sungguhan di baliknya. Tugasnya menjawab: apakah alur ini masuk akal buat user asli, sebelum kita menulis kode backend?

MVP (Minimum Viable Product) — produk sungguhan yang berfungsi, dengan fitur secukupnya untuk memberi nilai nyata ke user asli dan menghasilkan data penggunaan yang nyata. Tugasnya menjawab: apakah orang benar-benar akan memakai ini, dan membayar untuk itu, berulang kali?

Kenapa urutannya penting

Masing-masing lebih murah dan lebih cepat dari yang berikutnya, dan masing-masing dirancang untuk menghentikan ide yang salah sebelum kamu mengeluarkan lebih banyak biaya:

  1. Landing page bisa memvalidasi permintaan dengan biaya ratusan ribu rupiah dan waktu seminggu.
  2. Prototype bisa memvalidasi alur dan mendapat persetujuan investor atau stakeholder tanpa menyentuh database.
  3. MVP adalah tempat uang dan waktu sungguhan dihabiskan — layak dilakukan setelah kamu sudah punya sinyal bahwa orang menginginkannya.

Langsung loncat ke MVP karena "terdengar lebih serius" adalah cara paling umum founder menghabiskan budget berlebihan untuk versi pertama yang salah.

Cara cepat memutuskan

  • Kalau kamu belum yakin ada yang menginginkan ide ini sama sekali → landing page dulu.
  • Kalau orang menginginkannya tapi kamu belum yakin soal pengalaman/alurnya → prototype berikutnya.
  • Kalau alurnya sudah tervalidasi dan kamu perlu membuktikan orang akan benar-benar memakai dan membayar → MVP.

Yang biasanya kami sarankan

Kebanyakan project yang datang ke kami dengan bilang "kami butuh MVP" sebenarnya lebih baik mulai satu langkah sebelumnya. Langkahnya lebih singkat, lebih murah, dan langsung membentuk apa yang seharusnya ada di dalam MVP — jadi tidak ada yang terbuang di build "sungguhan" nanti.

Kalau kamu belum yakin dari ketiganya mana yang cocok untuk situasimu, ceritakan apa yang ingin kamu bangun di WhatsApp — kami bantu cari tahu titik mulai yang tepat sebelum satu baris kode pun ditulis.